Dalam gulat gaya bebas (Freestyle) maupun gaya Greco-Roman, takedown adalah cara utama untuk mencetak poin dan mendapatkan keunggulan posisi di matras. Keberhasilan dalam menjatuhkan lawan tidak hanya memberikan dua poin yang krusial, tetapi juga memberikan dominasi psikologis dalam pertandingan. Oleh karena itu, bagi setiap pegulat yang ingin sukses, Menguasai Teknik Takedown dasar adalah prasyarat mutlak. Takedown yang efektif memerlukan perpaduan antara kecepatan, waktu yang tepat (timing), dan eksekusi teknik yang presisi. Kemampuan untuk menutup jarak (break the distance) dan menjatuhkan lawan secara cepat adalah esensi dari permainan ofensif gulat modern.
Langkah pertama dalam Menguasai Teknik Takedown adalah menguasai penetration step dari posisi stance yang rendah. Penetration step adalah langkah eksplosif yang memungkinkan pegulat masuk ke range kaki lawan dalam waktu sepersekian detik. Dua teknik takedown dasar yang harus dikuasai pemula adalah Single-Leg Takedown dan Double-Leg Takedown.
Single-Leg Takedown: Teknik ini berfokus pada pengamanan satu kaki lawan. Pegulat harus melakukan penetration step ke sisi luar kaki lawan. Setelah mengunci lutut atau ankle lawan, pegulat kemudian harus mengangkat kaki lawan dari matras sambil menggunakan kepala dan bahu untuk mendorong lawan ke samping atau ke belakang. Keberhasilan teknik ini sangat bergantung pada kecepatan dan kemampuan level change (perubahan ketinggian tubuh) yang ekstrem, yang harus dilakukan di bawah 0,5 detik untuk menghindari sprawl lawan. Pelatih Kepala Tim Gulat Jawa Barat, Bapak Ali Syahputra, dalam workshop teknik yang diadakan pada Selasa, 12 Agustus 2025, di GOR Padjadjaran, menekankan bahwa Single-Leg adalah teknik yang paling sering memberikan kemenangan di kompetisi tingkat nasional.
Double-Leg Takedown: Teknik ini melibatkan pengamanan kedua kaki lawan secara simultan. Double-Leg memerlukan penetrasi yang lebih dalam dan kekuatan pendorong dari bahu. Setelah melakukan penetration step yang sama, pegulat harus memeluk kedua paha lawan atau bagian belakang lutut lawan, kemudian mendorong maju dengan bahu sambil menarik kaki lawan ke arah belakang. Teknik ini lebih mengandalkan power dan momentum. Jika lawan berhasil melakukan sprawl, pegulat harus segera bertransisi ke teknik lain, seperti High Crotch atau Single-Leg.
Menguasai Teknik Takedown juga mencakup kemampuan untuk finish (menyelesaikan) serangan. Seringkali, pegulat berhasil mendapatkan pegangan, tetapi gagal menjatuhkan lawan karena finish yang buruk. Finish yang kuat melibatkan lifting (mengangkat), driving (mendorong), atau sweeping (menyapu). Selain itu, untuk mencetak poin dan memimpin skor, pegulat harus memprioritaskan keamanan. Kegagalan takedown dapat berakibat fatal, karena lawan bisa memanfaatkan posisi yang terbuka untuk melakukan serangan balik atau exposure (membuat bahu menyentuh matras), yang juga bernilai poin bagi mereka. Oleh karena itu, penguasaan takedown adalah kombinasi agresif menyerang dan pertimbangan risiko yang matang.