Dalam dunia gulat, tekanan untuk mencapai target berat badan tertentu sering kali menjadi beban mental dan fisik bagi atlet muda. PGSI Jambi dalam sesi edukasi terbarunya memberikan peringatan keras mengenai bahaya melakukan Bahaya Diet Ekstrem di masa pertumbuhan. Meski terlihat sebagai jalan pintas untuk mencapai kelas berat badan yang diinginkan, metode ini menyimpan risiko jangka panjang yang dapat mengganggu perkembangan fisik dan fungsi organ vital seorang atlet muda.
Ketika seorang atlet yang masih dalam masa pertumbuhan membatasi asupan kalori secara drastis, tubuh akan mengalami kekurangan nutrisi esensial seperti kalsium, zat besi, dan vitamin penting lainnya. Kekurangan ini dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang, gangguan hormonal, hingga keterlambatan perkembangan fisik. Bagi pegulat muda, masa ini adalah waktu krusial untuk membangun massa otot dan kekuatan tulang. Jika masa ini dilewati dengan pola makan yang salah, dampak negatifnya mungkin tidak terasa saat ini, namun akan terlihat jelas saat mereka menginjak usia dewasa di mana potensi atletik mereka menjadi tidak maksimal.
Selain risiko kesehatan fisik, pertumbuhan mental juga sangat terpengaruh. Diet ekstrem sering kali memicu pola makan tidak sehat, obsesi berlebih pada angka timbangan, hingga gangguan makan yang serius. Seorang atlet yang selalu merasa lapar dan stres karena diet ketat akan kehilangan fokus saat berlatih. Performa di matras gulat sangat bergantung pada ketajaman kognitif dan ketenangan mental. Jika seorang atlet terus-menerus merasa cemas akan berat badannya, mereka tidak akan mampu mengeluarkan teknik terbaik saat bertanding, yang justru merusak peluang mereka untuk berprestasi.
PGSI Jambi menyarankan agar para pelatih dan orang tua atlet lebih bijak dalam mendampingi anak-anak mereka. Fokus utama bagi atlet muda haruslah pada performa, bukan sekadar angka di timbangan. Pengaturan berat badan harus dilakukan melalui peningkatan aktivitas fisik yang terukur dan pemilihan jenis makanan yang berkualitas, bukan dengan memangkas porsi makan hingga di bawah kebutuhan dasar tubuh. Edukasi mengenai komposisi tubuh yang sehat—di mana otot lebih berat daripada lemak—harus lebih digalakkan agar para atlet muda paham bahwa berat badan bukanlah satu-satunya indikator kemampuan mereka.