Masalah utama yang sering dihadapi adalah bakteri yang berkembang biak pada kain yang lembap. Jika baju tidak segera ditangani setelah latihan, bakteri tersebut akan menghasilkan bau amonia yang sangat menyengat. Oleh karena itu, langkah pertama yang disarankan adalah jangan pernah membiarkan baju gulat menumpuk di dalam tas olahraga dalam keadaan basah. Setibanya di rumah, baju harus segera dikeluarkan dan diangin-anginkan jika tidak bisa langsung dicuci. Mengabaikan hal kecil ini adalah penyebab utama mengapa baju olahraga menjadi bau keringat yang permanen dan merusak serat kain seiring berjalannya waktu.
Proses pencucian baju gulat sebenarnya membutuhkan teknik yang berbeda dari pakaian biasa. Penggunaan air dingin sangat disarankan karena air panas dapat merusak elastisitas bahan spandex atau lycra yang umum digunakan pada seragam gulat. Selain itu, hindari penggunaan pemutih pakaian karena zat kimia keras di dalamnya dapat melunturkan warna dan membuat kain menjadi kaku. Pihak PGSI Jambi menyarankan penggunaan detergen cair yang lembut atau detergen khusus olahraga yang dirancang untuk mengangkat lemak tubuh dan garam dari keringat secara tuntas hingga ke pori-pori kain terdalam.
Rahasia lain yang dibagikan oleh para atlet senior di Jambi adalah pemanfaatan bahan alami seperti cuka putih atau soda kue. Merendam baju selama 15 hingga 30 menit dalam larutan air yang dicampur sedikit cuka dapat membantu menetralkan bau yang membandel. Jangan khawatir dengan aroma cuka yang tajam, karena bau tersebut akan hilang dengan sendirinya saat baju dibilas dan dijemur. Selain itu, sangat penting untuk tidak mengeringkan baju gulat menggunakan mesin pengering (tumble dry) dengan suhu tinggi. Suhu panas dari mesin dapat mengerutkan seragam dan merusak struktur benang elastisnya. Menjemur di tempat yang teduh dengan sirkulasi udara yang baik adalah cara terbaik untuk menjaga kualitas seragam.
Selain masalah estetika dan kenyamanan, kebersihan seragam juga berkaitan erat dengan pencegahan penyakit kulit. Dalam olahraga kontak fisik seperti gulat, risiko penularan jamur atau infeksi kulit sangat tinggi jika atlet tidak menjaga higienitas perlengkapannya. Dengan mengikuti protokol pencucian yang benar, atlet tidak hanya menjaga penampilan mereka di atas matras, tetapi juga melindungi diri dan lawan tanding mereka dari risiko kesehatan. Kedisiplinan dalam merawat alat latihan adalah cerminan dari kedisiplinan seorang atlet dalam mengejar prestasi. Melalui tips sederhana ini, diharapkan para pegulat muda di Jambi dan seluruh Indonesia dapat lebih peduli terhadap perawatan perlengkapan mereka secara mandiri dan profesional.