Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah seharusnya melampaui fungsi sebagai penegak disiplin. Menurutnya, guru BK memiliki potensi besar untuk menjadi sosok yang berperan penting dalam memperkuat mental dan karakter siswa. Beliau menyerukan adanya perubahan paradigma dalam memahami peran guru BK, dari sekadar penegak disiplin menjadi pendamping dan pembimbing yang holistik. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah seminar pendidikan yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada hari Minggu, 11 Mei 2025.
Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan keprihatinannya bahwa selama ini, guru BK seringkali hanya dipandang sebagai penegak disiplin yang bertugas memberikan sanksi atau hukuman kepada siswa yang melanggar peraturan. Padahal, peran guru BK seharusnya lebih luas dari itu, yaitu membantu siswa dalam mengembangkan potensi diri, mengatasi masalah pribadi, sosial, dan belajar, serta merencanakan karir di masa depan. “Guru BK harus menjadi sosok yang dipercaya siswa, tempat mereka bisa mencurahkan isi hati dan mendapatkan solusi yang konstruktif, bukan justru ditakuti karena hanya bertugas sebagai penegak disiplin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya guru BK memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang psikologi konseling, komunikasi efektif, dan pemahaman tentang perkembangan remaja. Beliau juga mendorong adanya peningkatan kualitas layanan BK di sekolah melalui penyediaan sumber daya dan fasilitas yang memadai, serta kolaborasi yang erat antara guru BK dengan wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dr. Sofyan Anif, M.Si., yang turut hadir, menyambut baik pandangan Prof. Abdul Mu’ti. Beliau menyatakan bahwa pihaknya telah memasukkan materi tentang penguatan mental dan karakter siswa dalam kurikulum pendidikan guru BK. “Kami berharap, lulusan program studi BK kami dapat menjadi guru BK yang tidak hanya kompeten dalam bidang konseling, tetapi juga mampu menjadi penguat mental dan karakter siswa,” ujarnya. Dengan adanya perubahan paradigma dalam memahami peran guru BK, diharapkan iklim pendidikan di sekolah akan menjadi lebih kondusif dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.