Video mengenai siswa yang menunjukkan kemampuan dasar membaca dan berhitung di bawah standar viral di media sosial, memicu keprihatinan luas di kalangan masyarakat dan praktisi pendidikan. Menanggapi fenomena ini, pejabat pendidikan tinggi menyoroti bahwa kondisi tersebut sangat erat kaitannya dengan dampak berkepanjangan dari masa pandemi Covid-19. Situasi ini mengindikasikan adanya celah besar dalam penguasaan kemampuan dasar yang perlu segera diatasi.
Pandemi Covid-19 telah mengubah drastis lanskap pendidikan global, termasuk di Indonesia. Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan untuk menjaga kesehatan, meski krusial, ternyata meninggalkan jejak learning loss atau ketertinggalan belajar yang signifikan. Banyak siswa, terutama di jenjang pendidikan awal, kehilangan momen penting untuk menguasai kemampuan dasar secara optimal karena keterbatasan akses terhadap guru, interaksi langsung, dan fasilitas belajar yang memadai di rumah. Disparitas akses ini semakin memperlebar jurang kesenjangan.
Video viral tersebut menjadi wake-up call bagi semua pihak. Ia menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya kasus individual, melainkan indikasi masalah sistemik yang membutuhkan perhatian serius. Jika kemampuan dasar ini tidak segera diperbaiki, dampaknya bisa berlanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan bahkan memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pendidikan adalah fondasi utama, dan tanpa dasar yang kuat, pembangunan selanjutnya akan menjadi rapuh.
Sebagai contoh, pada hari Kamis, 23 Mei 2024, pukul 11.00 WIB, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Ibu Prof. Dr. Anita Susanti, dalam sebuah konferensi pers virtual, menjelaskan bahwa hasil asesmen nasional pasca-pandemi memang mengonfirmasi adanya penurunan pada literasi dan numerasi siswa di beberapa wilayah. Beliau menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai program akselerasi untuk pemulihan kemampuan dasar ini.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif. Sekolah dan guru harus mengidentifikasi siswa yang tertinggal dan menyediakan program remedial atau bimbingan khusus. Pemerintah perlu terus mendukung dengan kebijakan dan alokasi anggaran yang memadai untuk pemulihan pembelajaran. Peran serta orang tua juga sangat vital dalam memberikan dukungan dan memantau proses belajar anak di rumah. Dengan kolaborasi ini, diharapkan kesenjangan kemampuan dasar siswa dapat segera ditutup demi masa depan pendidikan yang lebih cerah.