Di tengah gelombang perubahan global, dunia pendidikan mengalami evolusi signifikan, menuntut adanya transformasi peran guru. Tidak lagi sekadar penyampai materi, guru kini diharapkan menjadi fasilitator, motivator, dan inovator pembelajaran. Kunci dari transformasi peran guru ini terletak pada dua aspek utama: adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pemahaman mendalam tentang psikologi murid. Kedua elemen ini esensial untuk menciptakan lingkungan belajar yang relevan dan efektif di abad ke-21.
Pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2024, yang diperingati pada tanggal 25 November, Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam pidatonya di acara puncak di Jakarta, pada Minggu, 17 November 2024, secara tegas menyatakan bahwa transformasi peran guru adalah keniscayaan. Beliau menyoroti pentingnya guru untuk selalu belajar dan mengembangkan diri, khususnya dalam menghadapi era digital. “Guru harus menjadi pembelajar seumur hidup. Adaptasi teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Demikian pula, memahami psikologi anak adalah fondasi untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna,” ujarnya di hadapan ribuan guru dan praktisi pendidikan.
Adaptasi teknologi bagi guru mencakup berbagai hal, mulai dari kemampuan menggunakan platform pembelajaran daring, memanfaatkan aplikasi edukasi, hingga mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu mengajar. Dengan teknologi, guru dapat menyajikan materi dengan cara yang lebih interaktif, personal, dan menarik bagi siswa yang tumbuh di era digital. Misalnya, penggunaan simulasi virtual untuk pelajaran sains atau gamifikasi untuk meningkatkan motivasi belajar.
Selain penguasaan teknologi, pemahaman psikologi murid menjadi pilar penting lainnya dalam transformasi peran guru. Setiap siswa memiliki gaya belajar, karakter, dan kebutuhan emosional yang berbeda. Guru yang memahami psikologi perkembangan anak akan mampu mendeteksi potensi kesulitan belajar, mengidentifikasi bakat tersembunyi, dan memberikan dukungan yang tepat. Ini juga mencakup kemampuan untuk membangun hubungan positif dengan siswa, menciptakan iklim kelas yang aman, dan mengatasi masalah-masalah perilaku atau emosional yang mungkin timbul.
Pada 10 Januari 2025, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan modul pelatihan daring hybrid baru yang berfokus pada pedagogi berbasis teknologi dan psikologi kognitif siswa. Modul ini akan menjadi bagian dari program pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru-guru di seluruh Indonesia. Dengan demikian, diharapkan para guru dapat menguasai kedua aspek ini secara seimbang, mewujudkan transformasi peran guru yang bukan hanya relevan, tetapi juga berdampak nyata dalam membentuk generasi penerus yang cerdas, inovatif, dan berkarakter.